Siapa yang Berhak Menentukan Mahar?

Siapa yang paling berhak menentukan mahar?

Jika calon suami memberi mahar berupa baju, si wanita sudah menerima, tapi ortu meminta agar minimal dalam bentuk cincin emas, apakah boleh bagi wali untuk menolaknya?

 

Jawaban:

Mahar termasuk kewajiban suami yang harus diberikan kepada istrinya.

Alloh berfirman,

“Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. an-Nisa: 4)

Al-Qurthubi mengatakan bahwa quran surat an-Nisa ayat 4 ini menunjukkan wajibnya memberi mahar bagi wanita, dan ini disepakati ulama, dan tidak ada perbedaan dalam hal ini.

Dan mahar adalah hak wanita. Karena itu, dia berhak untuk menggugurkan mahar atau menyerahkannya kepada suami atau memberikannya kepada siapapun yang dia inginkan.

Alloh melanjutkan firmannya di dalam Quran Surat an-Nisa ayat 4,

“Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu dengan nyaman dan baik.”

Hanya saja ulama berbeda pendapat, siapa yang paling berhak menentukan besarnya mahar? Wali ataukah pengantin wanita?

Pertama, yang paling berhak menentukan nilainya adalah wali pengantin wanita. Jika mahar nilainya di bawah umumnnya nilai mahar yang ada di masyarakat atau mahar mitsl. Karena urusan mahar, urusan pengantin wanita, sehingga dia tidak boleh menentukan sendiri.

Dalam al-Mudawanah – kitab fiqh Malikiyah – dinyatakan, Jika dia gadis, dan mengatakan, “Saya setuju.” Sementara wali mengatakan tidak setuju, dan mahar kurang dari nilai mahar mitsl, menurut Ibnul Qosim, persetujuan kembali kepada wali, bukan ke si pengantin. Karena urusan dirinya, tidak boleh dikembalikan ke pribadinya.

Namun jika mahar itu senilai mahar mitsl, maka persetujuan kembali kepada pihak wanita.

Ibnul Qosim mengatakan, “Jika mahar yang disediakan suami untuk si istri adalah mahar mitsl, lalu istri menyatakan setuju. Sementara wali menyatakan tidak setuju, maka persetujuan yang dianggap adalah persetujuan istri. Dalam hal ini, wali tidak punya hak pendapat.

Kedua, yang paling berhak menentukan nilai mahar adalah pengantin wanita. Sementara wali sama sekali tidak berhak menggugatnya. Meskipun nilainya di bawah mahar mitsl.

Sebagian ulama malikiyah Ada yang berpendapat, jika pengantin setuju dengan mahar di bawah mahar mitsl, itu boleh. Jika si wanita ridha dengan nilai mahar, meskipun kurang dari mahar mitsl, maka wali harus menikahkannya.

Jadi, jika si wanita rela dengan mahar yang lebih murah dengan mahar mitsl atau kebiasaan umumnya, maka walinya tidak berhak untuk menolaknya menikah. Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Pendapat terakhirlah yang lebih mendekati. Insya Alloh.

Allohu a’lam

 

Sumber: Naskah TJS Edisi 129 Nomor 4

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *