Seorang Wanita yang Meninggal saat Melahirkan dengan Cara Operasi Caesar, Apakah Syahid Juga?

Apakah benar seorang wanita yang meninggal karena melahirkan termasuk mati syahid?

Kalau melahirkannya secara caesar bagaimana? Apakah tetap mati syahid?

 

Jawaban:

Wanita yang meninggal karena anaknya, baik ketika anaknya masih di perutnya, atau ketika proses melahirkan, atau setelah melahirkan di masa nifas, semua kejadian ini menjadikan kematiannya sebagai syahid. Baik melahirkan normal atau dengan operasi caesar.

Berikut beberapa dalilnya,

Pertama, Dari Ubadah bin Shamit rodhiallohu ‘anhu, bahwa Nabi sholallohu ‘alahi wasallam pernah menjenguknya ketika Ubadah sedang sakit. Di sela-sela itu, Nabi bertanya, “Tahukah kalian, siapa orang yang mati syahid di kalangan umatku?”

Ubadah menjawab: ‘Ya Rosululloh, merekalah orang yang sabar yang selalu mengharap pahala dari musibahnya.’

Rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku cuma sedikit. Orang yang mati berjihad di jalan Alloh, syahid, orang yang mati karena Tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena sakit perut, syahid. Dan wanita yang mati karena nifas, dia akan ditarik oleh anaknya menuju surga dengan tali pusarnya.” (HR. Ahmad dalam musnadnya)

Kemudian dalil yang kedua, Hadis dari Jabir bin Atik, bahwa Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam pernah menjenguk Abdullah bin Tsabit, ketika itu beliau sedang pingsan karena sakit. Di tengah-tengah itu, ada orang yang menyinggung masalah mati syahid. Lalu Nabi bertanya, “Apa yang kalian anggap sebagai mati syahid?”

Mereka pun menjawab, ‘Orang yang mati di jalan Alloh.’ Kemudian Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam memberikan pengarahan,

Mati syahid ada tujuh, selain yang terbunuh di jalan Alloh: Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena sakit pada rongga dada, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa reruntuhan, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud)

Kaum muslimin yang meninggal dengan kondisi yang disebutkan tadi, tetap wajib dimandikan, dikafani, dan disholati, sebagaimana umumnya jenazah. Orang yang mati syahid dan jenazahnya tidak boleh dimandikan, adalah orang yang mati syahid di medan perang.

Ibnu Qudamah mengatakan, bahwa orang yang mati syahid, selain yang terbunuh di medan perang, seperti orang yang sakit perut, orang yang mati karena thaun, karena tenggelam, tertimpa, atau yang mati karena nifas, mereka semua dimandikan dan disholati.

 

Sumber: Naskah TJS Edisi 129 Nomor 6

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *