Bagaimana Hukumnya Menantu Laki-Laki Mencium Pipi Kiri dan Kanan Ibu Mertuanya?

Bagaimana hukumnya menantu laki-laki mencium pipi kiri dan kanan ibu mertuanya?

 

Jawaban:

Berkaitan dengan permasalahan ini kita harus tahu bahwa menyentuh wanita yang bukan mahrom adalah haram hukumnya. Bahkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pun tidak menjabat tangan para wanita ketika membaiat mereka. Aisyah rodhiallohu ‘anha berkata,

“Demi Alloh, Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Alloh perintahkan. Tangan beliau tidaklah pernah menyentuh tangan mereka. Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, “Aku telah membaiat kalian.” (HR. Muslim)

Kemudian di dalam hadits yang lain, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thabrani)

Nah, hadis ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman perbuatan tersebut, walau hadis tersebut dipermasalahkan keshahihannya oleh ulama lainnya. Yang diancam dalam hadis di atas adalah menyentuh wanita. Sedangkan bersalaman atau berjabat tangan sudah termasuk dalam perbuatan menyentuh.

Adapun berjabat tangan dengan wanita yang masih ada ikatan mahram, maka ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah membolehkannya.

Dalam pendapat lainnya ulama Hanabilah membolehkan menyentuh mahram selama bukan di aurat dan selama aman dari fitnah atau godaan syahwat. Alasannya, menyentuh mahram -selain pada aurat- adalah lebih cenderung pada sifat ingin memupuk rasa kasih sayang, amat jarang sentuhan yang terjadi adalah dengan syahwat atau rangsangan.

Jika menyentuh wanita saja dibolehkan, maka demikian halnya dengan bersalaman atau berjabat tangan.

Adapun ibu mertua adalah mahram muabbad bagi menantunya, artinya haram dinikahi selamanya meskipun istri atau anak dari mertua telah cerai atau meninggal dunia. Sebagaimana disebutkan dalam penggalan ayat

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu …”

Wanita yang haram dinikahi lainnya disebutkan dalam kelanjutan ayat di antaranya,

ibu-ibu isterimu (mertua). (QS. An Nisa’: 22-23)

Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan, “Adapun ibu mertua, maka ia menjadi mahrom ketika terjadinya akad nikah dengan anaknya, walau si anak sudah atau belum disetubuhi.”

Jika demikian, maka seorang pria boleh berjabat tangan dengan ibu mertua selama aman dari fitnah dan godaan syahwat. Jika ternyata menimbulkan syahwat atau fitnah, maka tentu hukumnya haram dan harus dihindari.

 

Sumber: Naskah TJS Edisi 99 Nomor 3

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *