Jenis-jenis Tawasul yang Diperbolehkan dan yang Tidak

Apakah tawasul itu termasuk taqorrub?

Kemudian tawasul yang benar itu yang seperti apa dan bagaimana?

Karena sekarang banyak tawasul dengan cara kirim alfatehah ke Rosululloh, malaikat, khulafaur Rasyidin, para wali, para habib, guru, orang sholeh, orang tua serta qorin.

Apakah itu tawasul yang dibenarkan?

 

Jawaban:

Tawasul merupakan ibadah agung yang telah disyari’atkan oleh Islam. Karena secara bahasa dalam kitab An-Nihayah fi Ghariibil Hadiitsi wal Atsar, dan Lisaanul ‘Arab disebutkan, tawasul berarti mengambil sarana untuk mencapai sesuatu dan mendekatkan diri kepadanya.

Sementara dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, menafsirkan kata wasilah (tawasul) dalam ayat yang berbunyi,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan carilah wasilah (jalan/ sarana untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, serta berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(QS. al-Maaidah: 35)

‘Dengan ucapan’, maksudnya dekatkanlah dirimu kepada Alloh dengan mentaati-Nya dan mengamalkan perbuatan yang diridhoi-Nya.

Jadi sebenarnya tawasul itu memang disyari’atkan oleh Alloh ta’alaa dan salah satu bentuk taqorrub kepada-Nya. Namun tawasul yang ada di zaman sekarang ini sudah banyak menyimpang dari ajaran Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam.

Oleh Karena itu, tawasul ada 2 macam, tawasul yang syar’I dan tawasul yang terlarang.

Tawasul syar’i adalah tawasul yang ditetapkan oleh syariat, yakni yang memiliki dalil dari Al Qur’an dan Hadits Nabawi. Maksudnya mengambil wasilah (atau perantara) untuk terkabulnya doa. Dan tawasul syar’i ini hanya boleh dilakukan dalam 3 keadaan:

Pertama: Bertawasul dengan zat Alloh yang Maha Suci, dengan nama-nama-Nya yang baik, dengan sifat-sifat-Nya, atau dengan perbuatan-Nya.

Dalilnya adalah firman Alloh Ta’ala (yang artinya),

Hanya milik Alloh asmaa-ul husna , maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu…(QS. Al A’raf: 180).

Dalilnya juga adalah sabda Rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam dalam doa beliau,

“… Aku memohon dengan setiap nama-Mu, yang Engkau memberi nama diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu…(H.R Ahmad)

Kedua: Bertawasul dengan amal shalih.

Bertawasul dengan amal sholih juga diperbolehkan.

Dalilnya adalah firman Alloh (yang artinya),

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Robb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 127)

Adapun dalil dari hadits yakni dalam kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua. Mereka bertawasul dengan amal shalih yang mereka lakukan berupa berbuat baik kepada kedua orangtua, meninggalkan perbuatan zina, dan menunaikan hak orang lain, maka Alloh mengabulkan doa mereka sehingga mereka dapat keluar dari goa karena sebab tawasul dalam doa yang mereka lakukan. Ini menunjukkan diperbolehkannya sesorang bertawasul dengan amal sholihnya.

Ketiga: Bertawasul dengan doa orang mukmin yang masih hidup.

Dalilnya adalah firman Alloh Ta’ala ketika mengkisahkan anak-anak Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam (yang artinya),

Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (QS. Yusuf:97) Sedangkan dalil dari hadits adalah doa Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam untuk ‘Ukasyah bin Mihson rodhiallohu ‘anhuma. Beliau sholallohu ‘alahi wasallam memohon kepada Alloh agar menjadikan ‘Ukasyah termasuk tujuh puluh ribu golongan yang masuk surga tanpa hisab.

 

Sedangkan apa yang ditanyakan tadi, mengenai tawasul kepada khulafaurasyidin, para nabi dan lain lain, maka hal itu termasuk tawasul yang dilarang. Dan tawasul terlarang ini terbagi menjadi 2,

Pertama, Tawasul Syirik

Maksudnya, si pelaku tawasul berdoa memohon dan meminta langsung kepada obyek tawasul, baik obyek yang dimintai itu Nabi sholallohu ‘alahi wasallam, para wali atau yang lainnya. Misalnya dengan berkata, ya syaikh fulan kabulkanlah doaku, dan sebagainya.

Walaupun pelakunya menamakan praktek ini dengan tawasul, namun sebenarnya adalah perbuatan syirik, karena ia telah mempersembahkan ibadah kepada selain Alloh. Ibadah yang dimaksud adalah doa.

Alloh ta’ala berfirman :

Barang siapa berdoa kepada sesembahan selain Alloh , padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Rabbnya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” (QS. al-Mu’minûn/23:117)

Bentuk tawasul tersebut bertentangan dengan prinsip ikhlas dalam berdoa. Imam as-Sam’âny menjelaskan, “Ikhlas dalam berdoa artinya: seorang hamba tidak berdoa kepada selain Alloh”

Kedua, Tawasul Bid’ah

Maksudnya tawasul yang tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an atau hadits yang sahih, namun tidak mengandung unsur persembahan ibadah kepada selain Alloh .

Dimana seseorang berdoa kepada Alloh dengan menyebut-nyebut (tawasul) nama nabi, malaikat, para wali dan sebagainya, seraya berkata dengan kedudukan dan kemuliaan nabi, saya meminta kepada Alloh agar segera dikaruniai anak. Ataupun yang lainnya. Padahal Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam mewanti-wanti umatnya dengan bersabda:

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” (HR. Muslim)

Mengenai hal ini, Imam Abu Hanifah mengingatkan, “Tidak diperkenankan bagi orang yang berdoa untuk mengucapkan, ‘Aku memohon pada-Mu dengan hak fulan, atau hak para nabi dan rosul-Mu…’

 

Sumber: Naskah TJS Edisi 84 Nomor 2

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *