Apakah Saat Nyawa Dicabut Kita Akan Merasa Kesakitan?

Betulkah ketika dicabut nyawa dan sakaratul maut rasanya sangat sakit?

 

Jawaban:

Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut.

Ibnu Abi Ad-Dunya rohimahulloh meriwayatkan dari Syaddad bin Aus rodhiallohu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya”

Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Alloh:

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS. Qaaf: 19)

Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq atau perkara yang benar adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya.

Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian.

Juga di ayat lainnya:

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas seseorang telah mendesak sampai kerongkongan. Dan dikatakan kepadanya: “Siapakah yang dapat menyembuhkan.” Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis kiri dengan betis kanan. Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau.” (QS. Al Qiyamah: 26-30)

Syaikh Sa’di rohimahulloh menjelaskan:

“Alloh mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher atau kerongkongan, maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, ia mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan.

Karena itu Alloh berfiman:

“Dan dikatakan kepadanya: “Siapakah yang akan menyembuhkan?” artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi.

Namun qadha dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis kiri dengan betis kanan, maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya.

Maka dihalau menuju Alloh Ta’ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Alloh sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan.”

Sedangkan beberapa hadits Nabi yang menguatkan fenomena sakaratul maut:

Imam Bukhori meriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiallohu ‘anhuma, ia bercerita menjelang ajal yang menjemput Nabi:

“Bahwa di hadapan Rosululloh ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Alloh. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut.” Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la.” Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas.”

Dari Anas rodhiallohu ‘anhu, berkata:

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku.” Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…”

Dalam riwayat Tirmidzi, ‘Aisyah menceritakan: “Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematiannya, sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rosululloh.”

Dan penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk.

Dalil penguatnya, keumuman firman Alloh: “Setiap jiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Dan sabda Nabi: “Sesungguhnya kematian ada kepedihannya.” Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda.

Orang yang beriman, ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat yang mendatangi orang yang beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik lagi menggembirakan.

Dalilnya, hadits Al Bara` bin ‘Azib rodhiallohu ‘anhu bahwa Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam berkata tentang proses kematian seorang mukmin:

“Seorang hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari syurga, serta hanuth atau wewangian dari syurga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang.

Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata: “Wahai jiwa yang baik –dalam riwayat lain- jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan Alloh dan keridhaannya.” Ruhnya keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut kantong kulit.

Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya. Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya yaitu malaikat maut sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi.”

Malaikat memberi kabar gembira kepada insan mukmin dengan ampunan dengan ridho Alloh untuknya. Secara tegas dalam kitab-Nya, Alloh menyatakan bahwa para malaikat menghampiri orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta membawa berita gembira tentang syurga.

Alloh berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Alloh kemudian mereka beristiqomah, maka para malaikat turun kepada mereka sembari berkata:” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh syurga yang telah dijanjikan Alloh kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan bagimu dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 30)

Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Alloh semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Alloh niscaya para malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata, “janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak, istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka yaitu para malaikat memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya kebaikan.”

Dalam ayat lain, Alloh mengabarkan kondisi kematian orang mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya:

“Yaitu orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan kepada mereka: “Salamun ‘alaikum atau keselamatan sejahtera bagimu”, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. An Nahl: 32)

Syaikh Asy Syinqithi mengatakan: “Dalam ayat ini, Alloh menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang melaksanakan perintah Rabb mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin atau baik, yakni bersih dari syirik dan maksiat, ini menurut tafsiran yang paling shahih, juga memberi kabar gembira berupa syurga dan menyambangi mereka mereka dengan salam.”

Sedangkan orang kafir, maka ruhnya akan keluar dengan susah payah, ia tersiksa dengannya. Nabi menceritakan kondisi sakaratul maut orang kafir atau orang yang jahat dengan sabdanya:

“Sesungguhnya hamba yang kafir -dalam riwayat lain- yang jahat jika akan telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar akan dari langit dengan wajah yang buruk dengan membawa dari neraka. Mereka duduk sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan Alloh dan kemarahan-Nya.” Maka ia mencabut ruhnya layaknya mencabut saffud atau penggerek yang banyak mata besinya dari bulu wol yang basah.”

Secara ekspilisit, Al Quran telah menjelaskan bahwa para malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang kafir dengan siksa. Alloh berfirman:

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat mumukul dengan tangannya, sambil berkata: “Keluarkan nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh dengan perkataan yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya.” (QS. Al An’am: 93)

Maksudnya, para malaikat membentangkan tangan-tangannya untuk memukuli dan menyiksa sampai nyawa mereka keluar dari badan. Karena itu, para malaikat mengatakan: “Keluarkan nyawamu.”

Pasalnya, orang kafir yang sudah datang ajalnya, malaikat akan memberi kabar buruk kepadanya yang berbentuk azab, siksa, belenggu, dan rantai, neraka jahim, air mendidih dan kemurkaan Ar Rahman atau Alloh. Maka nyawanya bercerai-berai dalam jasadnya, tidak mau taat dan enggan untuk keluar.

Para malaikat memukulimya supaya nyawanya keluar dari tubuhnya. Seketika itu, malaikat mengatakan:

“Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh dengan perkataan yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya.” Artinya pada hari ini, kalian akan dihinakan dengan penghinaan yang tidak terukur karena mendustakan Alloh dan lantaran kecongkakan kalian dalam mengikuti ayat-ayat-Nya dan tunduk kepaada para rosul-Nya.

Setiap orang yang teledor di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan dilanda gulungan penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang yang insan muslim yang sholeh.

Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini dengan tetap memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memegang agama Alloh.

Wallohu a’lamu bishshawab.

 

Sumber: Naskah TJS Edisi 176 Nomor 7

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *