Bolehkah Wanita Ikut Mengaji di Masjid Saat Haid?

Temen saya sedang menstruasi, kalau mengaji ke masjid boleh tidak?

 

Jawaban:

Wanita haid, dalam Islam ada hukum khusus yang berlaku pada mereka. Seperti tidak boleh sholat, tidak boleh puasa dan tidak boleh disetubuhi melalui faraj (kemaluan). Tiga hal ini, para ulama sepakat berlaku pada wanita yang haid.

Ada satu masalah yang diperbincangkan oleh para ulama. Apakah termasuk yang berlaku pada wanita haid. Yaitu, hukum masuk masjid bagi wanita haid, boleh atau tidak?

Mayoritas ulama berpendapat terlarang.

Dalil utamanya adalah firman Alloh ta’ala di dalam quran surat an-Nisa ayat 43,

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamudan sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati saja, sebelum kamu mandi (mandi junub).” (QS. An-Nisa’ : 43)

Mereka menqiyaskan haid dengan junub.

Dan hadis yang artinya, “Saya tidak menghalalkan (melarang keras) orang yang haidh dan junub (masuk/berdiam) dalam masjid. (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)

Sebagian ulama, seperti Imam Ahmad (dalam salah satu riwayat dari beliau), Al Muzani, Abu Dawud dan Ibnu Hazm –rohimahulloh– berpandangan, wanita haid boleh berdiam di masjid. Karena tidak adanya dalil shahih yang melarang wanita haid masuk masjid.

Lalu mana pendapat yang paling kuat?

Dari dua pendapat tersebut, kami lebih condong kepada pendapat kedua yang membolehkan wanita haid berdiam di masjid. Di antara ulama kontemporer yang menguatkan pendapat ini adalah, Syekh Albani – rohimahulloh-.

Alasannya adalah sebagai berikut:

Pertama, tidak adanya dalil yang melarang wanita haid berdiam di masjid.

Adapun ayat 43 surat An-Nisa, tidak sedikitpun menyinggung wanita haid. Hanya menyinggung orang yang junub. Dan tidak benar mengqiyaskan haid kepada junub. Karena kaidah mengatakan,

“Tidak ada qiyas dalam masalah ibadah.”

Di samping itu, haid dan junub adalah dua hal yang berbeda, sehingga tidak bisa diqiyaskan. Di antara perbedaan yang mendasar adalah: wanita haid tidak diperintahkan sholat, sementara orang junub tetap diperintahkan sholat. Haid membatalkan puasa dan junub tidak semuanya membatalkan puasa, contohnya seperti mimpi basah.

Demikian pula hadis

Saya tidak menghalalkan (melarang keras) orang yang haidh dan junub (masuk/berdiam) dalam masjid. (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)

Hadits ini dinilai do’if (lemah) oleh para ulama hadis. Karena di antara rowinya terdapat “Aflat bin Kholifah.” yang dinilai bermasalah oleh banyak ulama hadis.

Kalau saja hadis ini shahih, tentu menjadi dalil tegas larangan wanita haid masuk masjid. Sehingga tidak perlu ada perbedaan pendapat. Namun kenyataannya hadis ini do’if, tidak bisa dijadikan dalil.

Kedua, kaidah ushul fiqih yang berbunyi, ‘Pada asalnya seseorang bebas dari pembebanan dan kewajiban syari’at.’

Mengingat ayat dan hadis tadi tidak bisa dijadikan dalil melarang wanita haid berdiam di masjid, maka yang tepat dalam hal ini, kita berpegang pada hukum asal seorang tidak terbebani syariat, sampai ada dalil yang menerangkan.

Ketiga, bolehnya orang kafir atau musyrik masuk masjid.

Para ulama menjelaskan bahwa orang-orang kafir boleh masuk masjid selain Masjidil Haram. Karena Alloh berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwa), karena itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam setelah tahun ini.” (QS. At-Taubah : 28)

Dahulu Nabi pernah mengumpulkan para ramu kaum Nasrani dari Najran di masjid. Untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada mereka. Jika orang kafir saja boleh masuk masjid, padahal bisa dipastikan ada najis di badan mereka, diantaranya haid, karena memang mereka tidak perduli dengan kesucian badan, tentu wanita muslimah yang haid, yang sudah tentu menjaga diri dari najis, lebih boleh untuk masuk masjid.

Keempat, keumuman sabda Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam, yang berbunyi

“Muslim itu tidaklah najis.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Kelima, hadis dari Ibunda Aisyah rodhiallohu ‘anhu, Nabi pernah berpesan kepada beliau saat beliau menunaikan haji dalam kondisi haid,

Sesungguhnya haid adalah perkara yang telah Alloh tetapkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja kamu tidak boleh towaf di Ka’bah sampai kamu suci.” (HR. Bukhori  dan Muslim)

Rosululloh tidak melarang Ibunda Aisyah untuk masuk Masjidil Haram. Yang beliau larang hanya towaf mengelilingi Ka’bah, karena memang towaf adalah sholat, hanya saja dibolehkan berbicara. Dan wanita haid, memang tidak boleh melakukan sholat.

Kesimpulannya, wanita haid boleh masuk masjid, boleh menghadiri pengajian di dalam masjid, karena berdasar alasan-alasan yang tadi telah kita sebutkan.

 

Sumber: Naskah TJS Edisi 130 Nomor 2

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *