Bagaimana Hukum Kupon Undian dalam Islam?

Kalau kita belanja di supermarket dengan nilai tertentu akan mendapatkan kupon undian, apakah ini termasuk judi atau mengundi nasib yang diharamkan sebagaimana mengundi nasib dengan anak panah?

Bagaimana hukumnya di dalam islam? Mohon menjelasannya..

 

Jawaban:

Undian pada dasarnya dibolehkan. Itu biasa disebut dengan istilah qur’ah. Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam. juga biasa melakukan undian. Ini bisa kita ketahui, misalnya ketika beliau mengundi para isterinya siapa yang di antara mereka yang berhak menemani beliau dalam sebuah perjalanan. Untuk tujuan perang atau lain sebagainya.

Adapun terkait hukum undian berhadiah bisa diperinci sebagai berikut,

  1. Jika Harga produk bertambah dengan terselenggaranya undian berhadiah tersebut. Maka Hukumnya Haram dan tidak boleh. Karena ada tambahan harga berarti ia telah mengeluarkan biaya untuk masuk kedalam suatu mu’amalat yang mungkin ia untung dan mungkin ia rugi. Dan ini adalah maisir yang diharamkan dalam syari’at Islam.
  2. Jika Undian berhadiah tersebut tidak mempengaruhi harga produk. Dengan kata lain Perusahaan mengadakan undian hanya sekedar melariskan produknya. Hukumnya Ada dua pendapat dalam masalah ini :
    1. Hukumnya harus dirinci. Kalau ia membeli barang dengan maksud untuk ikut undian maka ia tergolong kedalam Maisir/Qimar yang diharamkan dalam syari’at karena pembelian barang tersebut adalah sengaja mengeluarkan biaya untuk bisa ikut dalam undian. Sedang ikut dalam undian tersebut ada dua kemungkinan ; mungkin ia beruntung dan mungkin ia rugi. Maka inilah yang disebut Maisir/Qimar.

Adapun kalau dasar maksudnya adalah butuh kepada barang/produk tersebut setelah itu ia mendapatkan kupon untuk ikut undian maka ini tidak terlarang karena asal dalam mu’amalat adalah boleh dan halal dan tidak ada Maisir maupun Qimar dalam bentuk ini. Rincian ini adalah pendapat Lajnah Baitut Tamwil Al-Kuwaiti dan Haiah Fatwa di Bank Dubai Al-Islamy.

  1. Hukumnya adalah haram secara mutlak. Ini adalah fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah. Alasannya karena hal tersebut tidak lepas dari bentuk Qimar/Maisir dan mengukur maksud pembeli, apakah ia memaksudkan barang atau sekedar ingin ikut undian adalah perkara yang sulit.

Dan yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat pertama. Karena tidak adanya tambahan harga pada barang dan dasar maksud pembeli adalah membutuhkan barang/pruduk tersebut maka ini adalah mu’amalat yang bersih dari Maisir/Qimar dan ukuran yang menggugurkan alasan pendapat kedua. Sedangkan asal dalam mu’amalat adalah boleh dan halal.

Wallohu A’lam.

 

Sumber: TJS Edisi 85 Nomor 2

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *