Waktu Sholat Syuruq

Kapan waktu sholat syuruq? Pagi jam berapa bagusnya? mohon penjelasannya.

 

Jawaban: Istilah sholat syuruq dikaitkan dengan waktu. Shalat syuruq berarti sholat yang dikerjakan di waktu matahari terbit.

Di antara syarat dalam pelaksanaan sholat syuruq yang perlu diperhatikan, sholat ini dikerjakan ketika matahari sudah meninggi, kurang lebih satu tombak dalam pandangan mata manusia. Karena ketika matahari tepat di garis terbit, kita dilarnag melakukan sholat.

Dari Uqbah bin Amir rodhiallohu ‘anhu dia berkata:

“Ada tiga waktu di mana Nabi sholallohu ‘alahi wasallam melarang kami untuk melaksanakan sholat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami: [1] ketika matahari terbit sampai tinggi, [2] ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir dan [3] ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.” (HR. Muslim)

Berdasarkan penjelasan di atas, berarti mulainya waktu dhuha dan waktu syuruq itu sama, yaitu ketika matahari telah terbit setinggi satu tombak. Sehingga kesimpulannya sholat syuruq adalah sholat dhuha di waktu yang paling awal.

Seorang ulama mengatakan:

“Shalat sunah syuruq termasuk sholat dhuha, hanya saja dikerjakan di awal waktu, ketika matahari terbit, dan sudah naik sekitar satu tombak, itulah syarat isyraq. Namun jika dilakukan di akhir waktu atau di pertengahan waktu maka statusnya sholat dhuha. (Liqa’at Bab al-Maftuh)

Sehingga orang yang mengerjakan sholat syuruq hakekatnya dia mengerjakan sholat dhuha.

Bagi orang yang sudah mengerjakan sholat syuruq, bolehkah mengerjakan sholat dhuha?

Shalat dhuha tidak harus dilakukan di satu titik waktu, tapi boleh dikerjakan di sepanjang rentang waktu dhuha, yaitu sejak matahari setinggi satu tombak hingga sebelum waktu istiwa’ (matahari tepat di tengah).

Karena itu, bagi yang sudah mengerjakan sholat dhuha di awal waktu, dia boleh mengerjakan sholat dhuha di akhir waktu. Misal jam 6:30 mengerjakan sholat syuruq, dan sewaktu di kantor mengerjakan sholat dhuha.

Wallohu a`lam

 

Sumber: Naskah TJS Edisi 155 Nomor 6

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *