Sudah Berusaha Maksimal, Namun Rezeki Masih Kurang

Ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, namun rezeki masih saja seret, bagaimana seharusnya kita bersikap ketika dalam kondisi yang terhimpit?

 

Jawaban:

Sesungguhnya rezeki ada di tangan Alloh semata. Dia lapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Pastinya dengan hikmah dan keadilan-Nya.

Maka, seberapa keras seseorang berusaha, jika Alloh tidak menakdirkan rezeki itu datang, maka dia tidak akan mendapatkannya.

Alloh ta’ala berfirman,

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Alloh melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang menyempitkan rezeki tersebut. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Alloh bagi kaum yang beriman.” (QS. Al-Ruum: 37)

Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam mengajari zikir sesudah sholat,

Ya Alloh, tidak ada yang bisa mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Akan tetapi tetap seorang hamba harus berikhtiar dan berusaha, karena Alloh ta’ala menyuruh kita untuk berusaha dan berikhtiar untuk menjemput rezeki tersebut.

Dan hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Apalagi jika semua itu dibarengi dengan berbaik sangka, husnudzon kepada Alloh.

Karena Alloh subhanahu wata’ala telah berfirman di dalam hadits qudsi

Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (HR. Bukhori, dan Muslim)

Ketika kita berbaik sangka kepada Alloh, kemudian diiringi dengan ikhtiar dengan segenap kemampuan maksimal, senantiasa berdzikir, maka insya Alloh, Alloh akan memberikan banyak kemudahan dan kelapangan kepada kita.

Imam al-Thabrani meriwayatkan dalam al-Kabirnya, dari Abu Darda’ Rodhiyallohu ‘anhu, dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, yang artinya, “Sesungguhnya rezeki mencari hamba lebih banyak daripada ajal mencarinya.”

Sesungguhnya jatah rezeki seperti jatah umur. Tidak akan habis, jika belum sampai habis ajal. Sehingga kita tidak akan terlalu bersedih, kecewa, atau berduka dalam kehidupan dunia ini. Walaupun harus tetap berusaha dengan mempercayakan kepada Alloh.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Alloh dan perbaguslah dalam mencari rezeki! Ketahuilah, sesungguhnya seorang jiwa tidak akan mati kecuali telah sempurna rezekinya. Maka bertakwalah kepada Alloh dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (Disebutkan Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah)

Maka kewajiban hamba dalam rezeki ini ada dua perkara: Pertama, mengusahakan sebab yang dibolehkan syariat, yang dimubahkan syariat, untuk memperoleh rezeki yang halal.

Kedua, ridho dengan pembagian Alloh kepadanya karena hakikat ketetapan Alloh atas hamba mukmin adalah baik seluruhnya.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

Sungguh urusan urusan seorang mukmin ini menakjubkan. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik; dan itu tidak dimiliki kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kelapangan, kemudahan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapat kesukaran, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Perlu dipahami, bahwa hakikat kebahagiaan di dunia ini bukan semata dengan banyaknya harta. Sesungguhnya kebahagiaan itu dengan iman, dengan hati yang qana’ah, dan ridho dengan ketetapan dan pembagian Alloh Ta’ala. Hal ini berdasarkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala,

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik pula dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Nahl: 97)

Balasan Hayah Thayyibah (kehidupan yang baik) berlaku pada kehidupan dunia. Bentuknya berupa tenangannya hati dan tentramnya jiwa serta tidak disibukkan dengan godaan-godaan yang memalingkan hatinya.

Bentuk lainnya, Alloh memberikan rezeki yang halal lagi baik kepadanya dari jalan yang tak disangka-sangka.

Sekali lagi, yang paling penting adalah mengusahakan sebab rezeki sambil bertawakkal kepada Alloh. Jangan lupa untuk berdoa, dan menyatakan kesusahan kita kepada Alloh dengan berdoa dan bersimpuh, berlutut di hadapan-Nya dalam shalat, khususnya pada qiyamulail di sepertiga malam terakhir.

Saat itu Alloh turun ke langit dunia dan menawarkan beberapa perkara kepada para hamba-Nya: Siapa yang mau berdoa kepada-Ku, pasti aku kabulkan doanya, Siapa yang meminta kepada-Ku pasti aku kabulkan permintaannya itu, siapa yang memohon ampun kepada-Ku pasti Aku ampuni.

Selain itu, jangan lupa meningkatkan taubat dan memperbanyak istighfar, meminta ampunan kepada Alloh.

Karena maksiat itu menjadi sebab sempitnya rezeki dan datangnya kesulitan. Hal ini sebagaimana dikabarkan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam,

“Sesungguhnya seseorang diharamkan rezeki disebabkan dosa yang dilakukannya.” (HR. Ahmad)

Alloh Ta’ala berfirman tentang petuah Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada umatnya agar banyak istighfar,

“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Robb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta serta anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai”.” (QS. Nuuh: 10-12)

Dalam hadits disebutkan,

“Siapa yang kontinyu beristighfar maka Alloh jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia sangka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Selanjutnya isi kehidupan dengan ketaatan dan kebaikan amal sholeh. Sesungguhnya karunia Alloh didapatkan dengan ketaatan dan suka berbuat baik kepada sesama.

Sebaliknya kemaksiatan dan sikap buruk kepada orang merupakan sebab kesulitan dan kesusahan. Karena sesunggguhnya balasan sesuai dengan jenis amal.

Wallohu a’lam.

 

Sumber: Naskah TJS Edisi 130 Nomor 1

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *