Mengharap Keberkahan dari Bekas Fisik Rosululloh

Pernah ada berita seseorang membawa sehelai rambut Rosululloh shollallohu ’alaihi wasallam untuk mendapatkan berkahnya?

Dan apakah boleh kita sampai mengagung-agungkan rambut tersebut?

 

Jawaban:

Ngalap berkah atau yang dinamakan tabarruk dengan bekas fisik Nabi shollallohu ’alaihi wasallam memang dibolehkan. Sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat nabi, mereka pernah bertabaruk dengan air bekas wudhu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam, baju beliau, minuman beliau, rambut dan seluruh bekas fisik yang mulia Rosululloh ’alaihi sholatu wasallam.

Dan Nabi shollallohu ’alaihi wasallam tidak mengingkari tindakan mereka. Menunjukkan bahwa hal tersebut boleh dilakukan. Karena memang pada tubuh Nabi shollallohu ’alaihi wasallam yang mulia, mengandung keberkahan dari Alloh jalla wa a’ala.

Sahabat Anas bin Malik rodhiyallohu ta’ala ’anhu pernah menceritakan,

Suatu saat, Nabi shollallohu ’alaihi wasallam berkunjung ke rumah kami. Lalu beliau tidur siang. Beliau berkeringat ketika itu. Kemudian ibuku mengambil botol dan mengumpulkan keringat itu di dalamnya.

Nabi shollallohu ’alaihi wasallam terbangun dan bertanya, “Ummu Sulaim.. apa yang sedang kamu lakukan?”

“Ini adalah keringat Anda Ya Nabi..,” jawab Ummu Sulaim, “kami akan campur dengan parfum kami. Itu adalah parfum terbaik.”

Dalam riwayat lain, dijelaskan jawaban Ummu Sulaim,

“Kami mengharap mendapatkan berkah keringat ini untuk anak-anak kami.”

Rosul pun berkata,

“Anda benar…” (HR. Muslim)

Di kesempatan yang lain, sahabat Abu Juhaifah rodhiyallohu ta’ala ’anhu mengisahkan,

Rosululloh ’alaihi sholatu wasallam menemui kami saat hari panas terik. Air wudhu disiapkan untuk beliau. Seusai wudhu, orang-orang bergegas mengambil sisa wudhu beliau. Lalu mereka usap-usapkan pada tubuh mereka.” (HR. Bukhori)

Bahkan para ulama sepakat boleh. Para ulama telah bersepakat (ijma’), disyariatkannya ngalap berkah dengan bekas fisik Nabi Shollallohu ’alaihi wasallam.

Ulama-ulama Siroh, ahli sejarah, telah menyebutkan banyak hadis tentang tabarruk para sahabat yang mulia dengan bekas-bekas fisik Rosululloh ’alaihi sholatu wasallam, dengan berbagai macamnya.

Tabarruk dengan fisik atau bekas fisik manusia, tidak boleh dilakukan kecuali kepada fisik Rosululloh shollallohu ’alaihi wasallam. Tidak boleh dilakukan pada para wali Alloh lainnya atau orang-orang sholih selain Nabi Muhammad ’alaihi sholatu wasallam.

Dahulu para sahabat berharap berkah dari keringatnya Nabi shollallohu ’alaihi wasallam. Mereka juga berharap berkah dari air ludah beliau, baju dan rambut beliau.

Adapun untuk selain Nabi shollallohu ’alaihi wasallam, tidak boleh kita berharap berkah dari baju, rambut, kuku atau segala sesuatu yang melekat pada fisiknya, kecuali hanya kepada Nabi ’alaihi sholatu wasallam saja.

Terbukti dalam praktek para sahabat –rodhiyallohu’anhum ajma’in-, sepeninggal Nabi, tak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa, seorangpun dari mereka bertabaruk dengan bekas wudhu atau rambutnya Abu Bakr As Sidiq atau Umar bin Khattab rodhiyallohu’anhuma.

Lalu pertanyaannya, masih adakah rambut Rosululloh saat Ini?

Abdullah bin Mubarok –rohimahulloh– pernah mengatakan, Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, niscaya orang akan mengklaim sesukanya.

Sanad adalah, data urutan orang-orang dalam jalur periwayatan sebuah kabar.

Mengenai rambut Nabi shollallohu ’alaihi wasallam, jika saja itu benar, tidak perlu dipermasalahkan. Namun, membuktikan keaslian rambut beliau yang mulia, harus ada bukti berupa jalur sanad yang terjaga dan bisa dipertanggungjawabkan.

Apakah bukti ini bisa diupayakan pada zaman ini?

Syekh Ahmad Basa Taimur, seorang sejarawan muslim mengatakan, tak satupun riwayat valid yang bersambung sampai ke Nabi berkenaan rambut Nabi shollallohu ’alaihi wasallam yang tersebar di masyarakat sepeninggal beliau.

Rambut-rambut beliau yang sampai kepada mereka mungkin bersumber dari para sahabat; semoga Alloh meridhoi mereka, yang telah tersebar setiap helainya. Hanya saja, sangat sulit mengidentifikasi riwayat yang valid dengan yang tidak.

Kita semua mengetahui bahwa bekas-bekas fisik Nabi shollallohu ’alaihi wasallam seperti baju, rambut atau yang lainnya, telah punah. Dan tidak seorangpun di antara kita yang mampu menghadirkan benda-benda tersebut dengan yakin dan valid.

Maka dari itu, bertabaruk dengan hal-hal demikian zaman ini menjadi pembahasan yang tidak terlalu penting, hanya sekadar praduga atau klaim semata. Oleh karenanya, tidak perlu kita memperpanjang pembicaraan tentang masalah ini.

Dan jika kita menginginkan betul berkah dari Nabi shollallohu ’alaihi wasallam, ada satu sarana yang valid dan pasti dapat keberkahan.

Apa itu? Yaitu bertabaruk dengan ajaran yang dibawa Nabi shollallohu ’alaihi wasallam, yang sampai detik ini jejaknya masih terjaga, bahkan hingga hari kiamat. Silahkan ngalap berkah dan meneladani sunah-sunah beliau shollallohu ’alaihi wasallam.

Ada keterangan menarik dari Syeikhul Islam Ahmad Al Harroni rohimahulloh, beliau berkata,

Penduduk Madinah, di saat kedatangan Nabi shollallohu ’alaihi wasallam, mereka mendapatkan keberkahan, saat mereka beriman dan taat kepada beliau. Dengan berkah ini, mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bahkan setiap mukmin yang beriman Rosul serta patuh kepada perintahnya, meraka mendapat keberkahan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam, disebabkan iman serta ketaatan mereka kepadanya. Berupa kebaikan dunia dan akhirat yang tak ada tahu nilainya kecuali Alloh tabarroka wa ta’ala.

Wallohu a’lam.

 

Sumber: Naskah TJS Edisi 130 Nomor 3

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *