Hukum Pacaran di Bulan Romadhon

Bagaimana pandangan syariat Islam, orang yang berpuasa tapi masih pacaran? Mohon penjelasannya ustadz. Terimakasih

 

Jawaban:

Romadhon adalah bulan yang mulia. Namun kemuliaan Romadhon kadang tidak diimbangi dengan sikap kaum muslimin untuk memuliakannya. Banyak di antara mereka yang menodai kesucian Romadhon dengan melakukan berbagai macam dosa dan maksiat. Pantas saja, jika banyak orang yang berpuasa di bulan Romadhon, namun puasanya tidak menghasilkan pahala. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang dia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, Ibnu Khuzaimah)

Salah satu di antara sebabnya adalah mereka berpuasa, namun masih rajin berbuat maksiat. Dan di antara maksiat yang seringkali dilakukan adalah pacaran.

Pacaran tidaklah lepas dari zina mata, zina tangan, zina kaki dan zina hati. Dari Abu Huroiroh, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Setiap anak Adam atau manusia telah ditakdirkan mendapat bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa dielakkan. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba atau menyentuh. Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)

Semua anggota badan berpotensi untuk melakukan semua bentuk zina tersebut. Mengantarkan kemaluan untuk melakukan zina yang sesungguhnya. Karena itulah, Alloh melarang mendekati perbuatan ini dengan menjauhi semua sebab yang akan mengantarkannya. Alloh berfirman,

“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

Memahami hal ini, maka sejatinya pacaran adalah perbuatan maksiat. Sementara maksiat yang dilakukan seseorang, bisa menghapus pahala atau bahkan bisa jadi ia sama sekali tidak mendapatkan pahala puasa.

Dari Abu Huroiroh, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Alloh tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhori)

Mengingat betapa bahayanya dosa bagi orang yang berpuasa, sejak masa silaim para ulama telah menasehatkan agar kaum muslimin serius dalam menjalani puasa, dengan berusaha mengekang diri dari berbagai macam maksiat.

Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Ketika engkau berpuasa maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawa di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”

Imam Al-Baydhowi rohimahulloh mengatakan bahwa Ibadah puasa bukanlah hanya menahan diri dari lapar dan dahaga saja. Bahkan seseorang yang menjalankan puasa hendaklah mengekang berbagai syahwat dan mengajak jiwa pada kebaikan. Jika tidak demikian, sungguh Alloh tidak akan melihat amalannya, dalam artian tidak akan menerimanya.

Wallohu a’lam.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *