Haruskah Kita Hanya Berpegang Pada Satu Madzhab Fikih Saja?

Saya mau bertanya soal madzhab, misalkan saya mengikuti madzhab Imam Syafi’i, terus ada satu perkara yang mengharuskan mengikuti madzhab atau pendapat selain dari Imam Syafi’i, apakah jika mngikuti madzhab atau pendapat lain harus dari nol?

Misal harus dimulai dari wudhu dari madzhab yang mau kita ikuti, apakah benar begitu? mohon jawabannya.

 

Jawaban:

Madzhab fikih bukanlah sebuah agama akan tetapi sebuah perkara yang menjadi bagian dari agama Islam.

Madzhab fikih adalah sebuah sarana untuk memudahkan mengamalkan agama Islam. Madzhab fikih adalah hasil ijtihad dan hasil pemahaman para imam madzhab terhadap nash-nash yang ada dalam agama Islam.

Sehingga mengambil satu madzhab fikih tidaklah sebuah kewajiban akan tetapi sebuah kebutuhan yang darurat bagi pemeluk agama Islam.

Kalaulah madzhab fikih itu sebuah agama maka tidak akan lahir banyak madzhab seperti madzhab Hanafi, Maliki, Syafii, Hambali, Dzohiri, Tsauri, dll.

Kebenaran tidaklah hanya ada pada satu madzhab fikih. Maka ketika seseorang mengikuti madzhab fikih tertentu ternyata mendapati pendapat madzhab fikih tersebut lemah atau bahkan bertentangan dengan dalil yang sahih maka dia harus mengambil pendapat yang kuat dan yang mendekati kebenaran serta sesuai dalil sahih walaupun itu ada di madzhab fikih lain.

Bukan mempertahankan madzhab fikihnya sedangkan pendapatnya jelas-jelas tidak kuat dan bahkan bertentangan dengan dalil sahih atau bisa disebut dengan bersikap taklid buta.

Carilah pendapat yang kuat dan lebih mendekati dengan kebenaran serta yang sesuai dengan dalil sahih walaupun itu dari madzhab fikih lain. Mengetahui pendapat yang kuat bisa dengan mendalami ilmu fikih dan perangkatnya atau bertanya langsung kepada ahli fikih.

Dalam kitab-kitab madzhab fikih pun tercantum berbagai perbedaan di kalangan intern madzhab itu sendiri, misalnya ulama madzhab Syafi’i terjadi perbedaan pendapat antar sesama mereka dalam masalah tertentu, begitu pula hal ini terjadi pada ulama-ulama madzhab fikih lain.

Imam Asy-Syafii saja memiliki dua pendapat yaitu pendapat qodim atau lama yang itu adalah hasil ijtihad saat beliau di Baghdad dan pendapat jadid atau baru yang merupakan hasil ijtihad beliau di Mesir.

Pendapat jadid menghapus pendapat qadim dalam hampir semua ijtihadnya. Hal ini menunjukkan bahwa sifat dari ijtihad ulama fikih itu bisa berubah suatu saat dan juga sangat memungkinkan terjadi perbedaan hasil ijtihad antara ulama yang satu dengan yang lainnya.

Berarti ini menjadi bukti bahwa kita diperbolehkan mengambil pendapat berbagai madzhab fikih karena yang dituntut bukanlah bermadzhab fikih tetapi beribadah dengan mengamalkan ajaran agama melalui sarana madzhab fikih yang ada dan yang ia yakini kebenaran pendapat madzhab tersebut.

Dan apabila kita ingin mengambil pendapat madzhab lain sama sekali tidak disyaratkan harus mengikutinya dengan memulainya dari nol seperti memulai dari bab thoharoh atau wudhu misalnya, maka kami katakan tidak ada satupun ulama yang menyatakan demikian.

Bahkan terkadang dia harus beribadah tetapi jika ditinjau dari madzhab fikih bahwa amalan dia telah berkesesuaian dengan banyak madzhab yang ada alias lintas madzhab. Hal itu tidak bermasalah asalkan bukan lantaran mencari pendapat yang ringan dan sesuka hati tetapi mencari yang ia yakini paling benar setelah meninjau dengan ilmu fikih dan perangkatnya.

Kalaupun dia sudah berusaha mencari pendapat yang kuat ternyata jatuhnya pada pendapat-pendapat yang ringan itupun tidak bermasalah dan tentunya dia berani bertanggung jawab atas pilihan pendapat tersebut.

Bagi orang yang sangat awam boleh saja mengambil satu madzhab tetapi harus mengikuti rambu-rambu bermadzhab yaitu ketika ada pendapat yang lemah di madzhab fikihnya dan ternyata yang kuat ada di madzhab fikih lain maka ia harus mengambil pendapat yang kuat, sekali lagi walaupun ada di madzhab fikih yang lain sehingga dia tidak jatuh pada sikap taklid buta.

Imam Abu Hanifah rohimahulloh berkata:

“Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku. Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari.”

Imam Malik rohimahulloh berkata:

“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.”

“Tidak ada seorang pun setelah Nabi sholallohu ‘alahi wasallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi sholallohu ‘alahi wasallam.”

Imam Asy-Syafii rohimahulloh berkata:

“Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam, maka berkatalah dengan sunnah Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan. Apabila telah shahih sebuah hadits, maka dia adalah madzhabku.”

Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh berkata:

“Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan hujjah itu hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam)”

“Barang siapa yang menolak hadits Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi jurang kehancuran.”

Jadi, pilih dan carilah pendapat yang kuat dan yang lebih dekat dengan kebenaran serta sesuai dalil yang sahih dan amalkanlah walaupun perbuatan itu dianggap mengambil banyak pendapat madzhab fikih alias lintas madzhab fikih. Adapun urusan kebenaran hanya ada di sisi Alloh.

Wallohu a’lam

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *