Bagaimana Cara Mengganti Puasa Wanita yang Hamil atau Menyusui yang Tidak Mampu Berpuasa?

Bagaimana dengan hukum tidak melaksanakan puasa Romadhon bagi wanita hamil dan menyusui?

Apa cukup membayar fidyah saja atau membayar fidyah dan juga qodho?

Selama 4 tahun saya terus berlanjut hamil dan menyusui, jadi saya hanya membayar fidyah saja pa ustad. Apakah itu cukup?

 

Jawaban:

Sebelumnya perlu disampaikan dengan tujuan untuk meluruskan pemahaman yang kurang tepat dari sebagian wanita, yaitu para wanita mengira bahwa ketika ia sedang hamil atau menyusui harus tidak berpuasa.

Bahkan ada yang beranggapan bahwa dirinya sama sekali tidak boleh berpuasa. Padahal tidak demikian, seorang wanita yang hamil atau menyusui sejatinya masih diperbolehkan melaksanakan puasa.

Baru kemudian jika ia tidak mampu atau ada kekhawatiran terhadap dirinya atau anaknya diberikan keringanan kepadanya untuk tidak berpuasa dan berlaku hukum tertentu pada dirinya.

Karena kondisi seseorang itu berbeda beda, usia kehamilan atau usia menyusui itu dari bulan ke bulan berikutnya juga berbeda-beda, tidak selamanya lemah dan tidak selamanya kuat.

Sehingga alangkah baiknya jika masih mampu atau kuat dan juga tidak ada kekhawatiran terhadap anaknya maka ia tetap berusaha untuk berpuasa dalam rangka meraih banyak keutamaan dan menenunaikan beban kewajiban pada dirinya. Hal ini sama seperti kondisi orang yang sedang sakit atau sedang dalam perjalanan.

Madzhab Syafi’i berpendapat, bagi wanita hamil atau menyusui apabila khawatir terhadap dirinya saja atau khawatir terhadap dirinya dan anaknya, maka boleh tidak berpuasa akan tetapi harus menqodho’ tanpa membayar fidyah.

Dan pendapat ini juga merupakan pendapat ulama lainnya. Jadi, jika ia khawatir dengan dirinya saja atau khawatir dengan dirinya dan anaknya maka ia boleh berbuka dan mengqodho’ tanpa ada fidyah baginya

Sedangkan jika ia khawatir terhadap anaknya saja maka ia berbuka, wajib mengqodho’ serta membayar fidyah dengan memberikan satu porsi makanan kepada fakir miskin setiap ia meninggalkan puasa. Jika ia tidak mampu membayar fidyah saat itu juga maka diperbolehkan menangguhkannya sampai ia mampu, dan ini adalah pendapat yang dianggap paling shahih dalam madzhab Syafi’i.

Imam Ibnu Qudamah Al-Hambali rohimahulloh berkata:

“Bagi wanita hamil dan menyusui apabila khawatir terhadap dirinya saja maka boleh berbuka dan harus mengqodho’. Tidak ada perbedaan pendapat tentang masalah ini karena posisinya seperti orang sakit yang mengkhawatirkan dirinya. Sedangkan apabila khawatir dengan anaknya saja maka ia berbuka, mengqodho’ dan membayar fidyah setiap ia meninggalkan puasa. Pendapat ini berasal dari sahabat Ibnu umar dan yang masyhur dalam madzhab Syafi’i.” (Lihat Kitab Al-Mughni Bab Puasa).

Syaikh Muhammad bin Sholeh rohimahulloh mengatakan:

“Jika wanita yang hamil khawatir atas dirinya walaupun dia tidak sakit, demikian pula wanita yang sedang menyusui, maka boleh bagi mereka berdua untuk berbuka, dan keduanya wajib mengqodho’. Jika khawatir atas bayinya saja maka keduanya wajib mengqodho’ dan memberi makan atau fidyah. Adapun wajib qodho’ karena mereka berdua berbuka. Dan adapun wajib memberi makan karena keduanya berbuka untuk kepentingan selain mereka berdua yaitu bayi mereka maka keduanya wajib membayar fidyah.” (Lihat Kitab Shahih Fikih Wanita Bab Puasa)

Dalam Kitab Al-Fiqh Al-Muyassar yang disusun oleh Syaikh Prof. DR. Abdul Aziz Al-Ahmadi, Syaikh Prof. DR. Abdul Karim Al-Amri, Syaikh Prof. DR. Abdullah Asy-Syarif dan Syaikh Prof. DR. Faihan Al-Muthairi, dibaca ulang oleh Syaikh Prof. DR. Ali Al-Faqihi, diberi pengantar oleh syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh disebutkan:

“Wanita hamil dan menyusui harus mengqodho’ puasa pada hari-hari di luar bulan puasa, dan itu manakala mereka mengkhawatirkan diri mereka saja atau dirinya dan anaknya. Tetapi bila wanita hamil mengkhawatirkan janinnya saja atau wanita menyusui mengkhawatirkan anak susuannya saja maka disamping mengqodho’ juga harus memberi makan seorang miskin sebagai ganti puasa setiap harinya berdasarkan ucapan sahabat Ibnu Abbas :

“Wanita menyusui dan hamil bila mengkhawatirkan anak-anak keduanya, maka keduanya boleh tidak berpuasa dan harus memberi makan fakir miskin.” (HR. Abu Daud)

Akan tetapi sebagian kecil ulama kontemporer seperti syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Salim rohimahulloh dalam kitabnya shahih fikih sunnah dan syaikh Abdul Adzim bin Badawi Al-Khalafi rohimahulloh dalam kitabnya Al-Wajiz menjadikan perkataan Ibnu Abbas di atas sebagai dalil bahwa wanita hamil atau menyusui yang khawatir atas anaknya cukup membayar fidyah dan tidak ada qodho’ baginya.

Namun pendapat yang yang lebih kuat, insyaa Alloh, adalah pendapat mayoritas ulama mutaqoddimin atau klasik dan kontemporer yaitu bagi wanita hamil atau menyusui yang khawatir atas anaknya saja harus mengqodho’ serta mengeluarkan fidyah.

Wallohu a’lam

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *