Jika Istri Membangkang dari Teguran Suami

Teman saya istrinya berteman dekat dengan laki-laki lain, tapi kalau ditegur suaminya malah dia benci sama suaminya, yang seperti ini bagaimana hukumnya pak ustad?

 

Jawaban:

Perbuatan istri teman anda termasuk nusyuz yaitu istri durhaka kepada suami dalam perkara ketaatan pada suami yang Alloh wajibkan kepadanya, dan pembangkangan ini telah menonjol. Sudah menjadi kewajiban suami adalah membimbing dan menasehati istri apabila ia sedang jatuh dalam dosa, namun istrinya justru tidak taat dan membenci suaminya.

Jika istrinya terus bermuka masam di hadapan suami, padahal suami sudah berusaha berwajah seri; berkata dengan kata kasar, padahal suami sudah berusaha untuk lemah lembut; atau ada nusyuz yang lebih terang-terangan, seperti selalu enggan jika diajak ke ranjang, keluar dari rumah tanpa izin suami, menolak bersafar bersama suami, maka hendaklah suami menyelesaikan permasalahan ini dengan jalan yang telah dituntukan oleh Alloh sebagaimana dalam firman-Nya:

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. An Nisa’: 34).

Cara mengobati nusyuz adalah sebagai berikut;

  1. Memberi nasehat

Hendaklah suami menasehati istri dengan lemah lembut. Suami menasehati istri dengan mengingatkan bagaimana kewajiban Alloh padanya yaitu untuk taat pada suami dan tidak menyelisihinya.

Ia pun mendorong istri untuk taat pada suami dan memotivasi dengan menyebutkan pahala besar di dalamnya. Wanita yang baik adalah wanita sholehah, yang taat, menjaga diri meski di saat suami tidak ada di sisinya.

Kemudian suami juga hendaknya menasehati istri dengan menyebutkan ancaman Alloh bagi wanita yang mendurhakai suaminya.

Jika istri telah menerima nasehat tersebut dan telah berubah, maka tidak boleh suami menempuh langkah selanjutnya. Karena Alloh Ta’ala berfirman,

“Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya” (QS. An Nisa’: 34)

Namun jika nasehat belum mendapatkan hasil, maka langkah berikutnya yang ditempuh, yaitu hajr.

  1. Melakukan hajr

Hajr artinya memboikot istri dalam rangka menasehatinya untuk tidak berbuat nusyuz. Langkah inilah yang disebutkan dalam lanjutan ayat,

“Dan hajr-lah mereka di tempat tidur mereka.” (QS. An Nisa’: 34)

Mengenai cara meng-hajr, para ulama memberikan beberapa cara sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnul Jauzi:

  1. Tidak berhubungan intim terutama pada saat istri butuh,
  2. Tidak mengajak berbicara, namun masih tetap berhubungan intim,
  3. Mengeluarkan kata-kata yang menyakiti istri ketika di ranjang,
  4. Pisah ranjang

(Lihat Kitab Zaadul Masiir).

Cara manakah yang kita pilih? Yang terbaik adalah cara yang sesuai dan lebih bermanfaat bagi istri ketika di-hajr.

Namun catatan penting yang perlu diperhatikan, tidak boleh seorang suami memboikot istri melainkan di rumahnya.

Sebagaimana sabda Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya mengenai kewajiban suami pada istri oleh Mu’awiyah Al Qusyairi,

“Dan janganlah engkau memukul istrimu di wajahnya, dan jangan pula menjelek-jelekkannya serta jangan melakukan hajr selain di rumah.” (HR. Abu Daud)

Karena jika seorang suami melakukan hajr di hadapan orang lain, maka si wanita akan malu dan terhinakan, bisa jadi ia malah bertambah nusyuz.

Namun jika melakukan hajr untuk istri di luar rumah itu terdapat maslahat, maka silakan dilakukan,karena Rosululloh pernah melakukan hajr terhadap istri-istri beliau di luar rumah selama sebulan.

Juga perlu diperhatikan bahwa hajr di sini jangan ditampakkan di hadapan anak-anak, karena hal itu akan sangat berpengaruh terhadap mereka.

  1. Memukul istri

Memukul istri yang nusyuz dalam hal ini dibolehkan ketika nasehat dan hajr tidak lagi bermanfaat. Namun hendaklah seorang suami memperhatikan aturan Islam yang mengajarkan bagaimanakah adab dalam memukul istri:

Pertama, memukul istri dengan pukulan yang tidak membekas. Sebagaimana nasehat Rosululloh ketika haji wada’,

“Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membekas.” (HR. Muslim)

Jika seorang suami memukul istri layaknya petinju, maka ini bukanlah mendidik. Sehingga tidak boleh pukulan tersebut mengakibatkan patah tulang, memar-memar, mengakibatkan bagian tubuh rusak atau bengkak.

Yang kedua, tidak boleh lebih dari sepuluh pukulan, sebagaimana pendapat madzhab Hambali.

Dalilnya disebutkan dalam hadits Abu Burdah Al Anshori, ia mendengar Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam bersabda,

“Janganlah mencabuk lebih dari sepuluh cambukan kecuali dalam had dari aturan Alloh” (HR. Bukhari)

Yang ketiga, tidak boleh memukul istri di wajah. Sebagaimana sabda hadist:

“Dan janganlah engkau memukul istrimu di wajahnya.” (HR. Abu Daud)

‘Aisyah menceritakan mengenai Rosululloh sholallohu ‘alahi wasallam,

“Aku tidaklah pernah sama sekali melihat Rasulullah memukul pembantu, begitu pula memukul istrinya. Beliau tidaklah pernah memukul sesuatu dengan tangannya kecuali dalam jihad (berperang) di jalan Alloh.” (HR. Ahmad)

Yang keempat, yakin bahwa dengan memukul istri itu akan bermanfaat untuk membuatnya tidak berbuat nusyuz lagi. Jika tidak demikian, maka tidak boleh dilakukan.

Yang kelima, jika istri telah mentaati suami, maka tidak boleh suami memukulnya lagi. Karena Alloh Ta’ala berfirman,

“Dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisa’: 34)

Demikian beberapa solusi yang ditawarkan oleh Islam untuk mengobati istri nusyuz atau membangkang. Jika solusi yang ditawarkan di atas tidaklah bermanfaat, maka perceraian bisa jadi sebagai jalan terakhir.

Semoga Alloh memberikan kemudahan urusan anda.

Wallohu a’lam.

 

Sumber: Naskah TJS EDISI 157 NOMOR 4

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *