Hukum Membicarakan Aib Orang Lain

Apakah boleh ngomongin aib atau ghibahin orang lain? Apakah itu dosa besar? Terima kasih atas jawabannya.

 

Jawaban:

Ghibah hukum adalah haram.

Ia merupakan perbuatan tercela yang dilarang dalam Al-Quran dan As-Sunnah, namun sayangnya ghibah menjadi kebiasaan sebagian orang.

Ia berkumpul bersama teman, saudara atau tetangga dengan asyiknya membicarakan aib dan keburukan orang lain sedangkan mereka tidak sadar hal itu perbuatan dosa, lebih-lebih bagi kalangan orang-orang yang minim ilmu syari, ghibah bagaikan minuman yang diteguk setiap hari.

Seorang muslim yang sejati, seyogyanya sangat berhati-hati dalam masalah ini.

Ghibah diperumpamakan oleh Alloh seperti seseorang yang memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati, oleh karena itu sangat buruklah perbuatan ini.

Alloh berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)

Dari Abu Huroiroh rodhiallohu anhu, bahwasannya Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Adakah engkau semua mengetahui, apakah mengumpat itu?”
Para sahabat menjawab:
“Alloh dan Rosul-Nya adalah lebih mengetahui.”
Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang ada
dalam diri saudaramu dengan apa-apa yang tidak disukai olehnya.”

Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau dalam diri saudara saya itu memang benar-benar ada apa yang dikatakan itu?”
Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jikalau benar-benar ada dalam dirinya
apa yang engkau ucapkan itu, maka sungguh-sungguh engkau telah mengumpatnya
dan jikalau tidak ada dalam dirinya apa yang engkau ucapkan itu, maka sungguh-sungguh engkau telah membuat-buat kedustaan pada dirinya.”
(HR. Muslim)

Wallohu a`lam

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *